Kader PMII Komisariat UINSI Samarinda
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

PMII Komisariat UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Rumah bagi mahasiswa Islam yang berkomitmen pada nilai Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh — berakar pada tradisi, bergerak untuk perubahan.

Berdiri

17 April 1960

Motto

Dzikir · Fikir · Amal

Sekretariat

Loa Janan Ilir

Instagram

@pmii_uinsisamarinda
Tentang Kami

Tumbuh dari tradisi,
bergerak untuk perubahan.

Mars PMII

Inilah kami wahai Indonesia

Satu barisan dan satu cita

Pembela bangsa, penegak agama

Tangan terkepal dan maju kemuka

Sejarah

PMII lahir pada 17 April 1960 di Malang sebagai wadah pergerakan mahasiswa Islam Indonesia. Selama lebih dari enam dekade, PMII hadir sebagai kaderisasi intelektual dan moral bagi generasi muda Muslim Indonesia. PMII lahir pada 17 April 1960 di M...

Tri Motto

01

Dzikir

02

Fikir

03

Amal Sholeh

Pengkaderan

Masa Pengenalan Anggota Baru (MAPABA)

Pendaftaran MAPABA periode ini TELAH DIBUKA. Bergabunglah menjadi bagian dari pergerakan mahasiswa Islam Indonesia.

Agenda

Kegiatan yang akan datang

Lihat semua agenda
PMII Update

Berita & Opini Kader

Semua tulisan
Mahasiswa dan Krisis Keteladanan: Kader PMII Jangan Hanya Pandai Bicara
Opini 28 Oct 2026

Mahasiswa dan Krisis Keteladanan: Kader PMII Jangan Hanya Pandai Bicara

Kita hidup di zaman ketika gagasan mudah dipamerkan, tetapi keteladanan sulit ditemukan. Mahasiswa fasih mengkritik pemerintah, lantang menuntut transparansi, dan piawai menyusun narasi perubahan. Namun di saat yang sama, tidak sedikit yang abai pada hal-hal kecil: menepati janji, datang tepat waktu, menjaga amanah, dan bertanggung jawab atas tugas organisasi. Kesenjangan antara ucapan dan tindakan inilah yang menjadi persoalan serius, termasuk bagi kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).   Integritas Dimulai dari Hal Kecil   Gerakan mahasiswa sering dinilai dari seberapa besar aksinya, seberapa ramai massanya, atau seberapa tajam orasinya. Padahal kepercayaan publik tumbuh dari konsistensi. Masyarakat tidak akan mudah percaya pada mahasiswa yang menuntut kejujuran dari pejabat, sementara dalam organisasinya sendiri laporan keuangan tidak transparan, rapat dijalani asal-asalan, dan tanggung jawab saling dilempar.   Kader yang berintegritas tidak lahir dari pidato, melainkan dari kebiasaan. Kejujuran dalam mengelola kegiatan rayon, kedisiplinan dalam menjalankan program, serta kesediaan mengakui kesalahan adalah latihan awal sebelum memikul peran yang lebih besar di masyarakat.   Menghidupkan Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh   Trilogi PMII sebenarnya sudah memberi rumusan yang utuh. Dzikir mengingatkan bahwa gerakan harus berpijak pada spiritualitas dan kerendahan hati. Fikir menuntut ketajaman nalar dan kebiasaan belajar. Amal sholeh memastikan semua itu berujung pada manfaat nyata bagi sesama.   Masalah muncul ketika ketiganya timpang. Ada kader yang kuat berdiskusi tetapi lemah dalam kepedulian sosial. Ada pula yang rajin beraktivitas tetapi miskin bacaan sehingga geraknya kehilangan arah. Keseimbangan inilah yang perlu terus diingatkan dalam setiap forum kaderisasi, bukan hanya dihafal saat MAPABA.   Senior dan Junior: Relasi yang Perlu Dibenahi   Keteladanan juga berkaitan erat dengan relasi antarkader. Senioritas seharusnya menjadi ruang pendampingan, bukan alat menekan. Senior yang baik hadir sebagai teman berpikir, membuka akses belajar, dan memberi contoh nyata. Sebaliknya, junior perlu menumbuhkan sikap hormat tanpa kehilangan keberanian bertanya dan berbeda pendapat.   Tradisi saling mengasah, bukan saling menjatuhkan, akan membuat rayon dan komisariat menjadi tempat tumbuh yang sehat. Dari lingkungan seperti itulah kader yang matang dan percaya diri akan lahir.   Hadir untuk Masyarakat   Pada akhirnya, ujian kader ada di tengah masyarakat. Apakah kehadiran PMII dirasakan di lingkungan sekitar kampus? Apakah ada program yang menyentuh kebutuhan warga, seperti bimbingan belajar anak, edukasi kesehatan, pendampingan UMKM, atau literasi digital bagi orang tua? Gerakan yang besar sering dimulai dari kerja sederhana yang dilakukan dengan konsisten.   Penutup   PMII akan tetap relevan selama kadernya mampu menjadi teladan, bukan sekadar pembicara. Mari kembali pada hal mendasar: jujur dalam bersikap, disiplin dalam bekerja, dan tulus dalam mengabdi. Sebab perubahan yang paling berpengaruh sering kali bukan yang paling nyaring, melainkan yang paling bisa dipercaya. Salam pergerakan!

Oleh: Sahabat Andi

Belum ada berita lainnya.

Dokumentasi

Rekam jejak kegiatan

Buka galeri
Landasan Hukum

Konstitusi & Dokumen Resmi

Rujukan hukum organisasi — dari AD/ART hingga hasil forum tertinggi PMII.

Selengkapnya
Pengurus

Struktur Kepengurusan

Pengurus Komisariat UINSI Samarinda periode 2025–2026.

Selengkapnya
Aditya Aulia Rahman

Ketua

Aditya Aulia Rahman

IKA PMII

Ikatan Keluarga Alumni

Jejak para senior yang telah berkontribusi bagi Komisariat dan masyarakat.

Selengkapnya
Aditya Aulia Rahman

Aditya Aulia Rahman

Anggota
Alumni

Kontak

Mari terhubung dengan Komisariat.

Untuk kolaborasi, undangan, atau informasi pengkaderan — silakan hubungi kami melalui saluran resmi di samping.