Mahasiswa dan Krisis Keteladanan: Kader PMII Jangan Hanya Pandai Bicara
Kita hidup di zaman ketika gagasan mudah dipamerkan, tetapi keteladanan sulit ditemukan. Mahasiswa fasih mengkritik pemerintah, lantang menuntut transparansi, dan piawai menyusun narasi perubahan. Namun di saat yang sama, tidak sedikit yang abai pada hal-hal kecil: menepati janji, datang tepat waktu, menjaga amanah, dan bertanggung jawab atas tugas organisasi. Kesenjangan antara ucapan dan tindakan inilah yang menjadi persoalan serius, termasuk bagi kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Integritas Dimulai dari Hal Kecil Gerakan mahasiswa sering dinilai dari seberapa besar aksinya, seberapa ramai massanya, atau seberapa tajam orasinya. Padahal kepercayaan publik tumbuh dari konsistensi. Masyarakat tidak akan mudah percaya pada mahasiswa yang menuntut kejujuran dari pejabat, sementara dalam organisasinya sendiri laporan keuangan tidak transparan, rapat dijalani asal-asalan, dan tanggung jawab saling dilempar. Kader yang berintegritas tidak lahir dari pidato, melainkan dari kebiasaan. Kejujuran dalam mengelola kegiatan rayon, kedisiplinan dalam menjalankan program, serta kesediaan mengakui kesalahan adalah latihan awal sebelum memikul peran yang lebih besar di masyarakat. Menghidupkan Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh Trilogi PMII sebenarnya sudah memberi rumusan yang utuh. Dzikir mengingatkan bahwa gerakan harus berpijak pada spiritualitas dan kerendahan hati. Fikir menuntut ketajaman nalar dan kebiasaan belajar. Amal sholeh memastikan semua itu berujung pada manfaat nyata bagi sesama. Masalah muncul ketika ketiganya timpang. Ada kader yang kuat berdiskusi tetapi lemah dalam kepedulian sosial. Ada pula yang rajin beraktivitas tetapi miskin bacaan sehingga geraknya kehilangan arah. Keseimbangan inilah yang perlu terus diingatkan dalam setiap forum kaderisasi, bukan hanya dihafal saat MAPABA. Senior dan Junior: Relasi yang Perlu Dibenahi Keteladanan juga berkaitan erat dengan relasi antarkader. Senioritas seharusnya menjadi ruang pendampingan, bukan alat menekan. Senior yang baik hadir sebagai teman berpikir, membuka akses belajar, dan memberi contoh nyata. Sebaliknya, junior perlu menumbuhkan sikap hormat tanpa kehilangan keberanian bertanya dan berbeda pendapat. Tradisi saling mengasah, bukan saling menjatuhkan, akan membuat rayon dan komisariat menjadi tempat tumbuh yang sehat. Dari lingkungan seperti itulah kader yang matang dan percaya diri akan lahir. Hadir untuk Masyarakat Pada akhirnya, ujian kader ada di tengah masyarakat. Apakah kehadiran PMII dirasakan di lingkungan sekitar kampus? Apakah ada program yang menyentuh kebutuhan warga, seperti bimbingan belajar anak, edukasi kesehatan, pendampingan UMKM, atau literasi digital bagi orang tua? Gerakan yang besar sering dimulai dari kerja sederhana yang dilakukan dengan konsisten. Penutup PMII akan tetap relevan selama kadernya mampu menjadi teladan, bukan sekadar pembicara. Mari kembali pada hal mendasar: jujur dalam bersikap, disiplin dalam bekerja, dan tulus dalam mengabdi. Sebab perubahan yang paling berpengaruh sering kali bukan yang paling nyaring, melainkan yang paling bisa dipercaya. Salam pergerakan!
Oleh: Sahabat Andi